Penanganan banjir bandang dan longsor atau galodo di Arosuka, Kabupaten Solok, memasuki tahap lanjutan. Pemerintah pusat meminta pendataan kerusakan dilakukan secara cepat dan akurat sebagai dasar menentukan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi.
Arosuka, CupakNews.id | Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto meninjau lokasi terdampak di Arosuka pada Kamis (24/9/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan di tengah proses pencarian korban yang masih hilang, pembersihan material banjir, penanganan pengungsi dan pemulihan fasilitas umum maupun perkantoran yang terdampak. Dalam peninjauan tersebut, Pratikno meminta Pemerintah Kabupaten Solok memastikan pendataan kerusakan dilakukan secara akurat.
“Masuk rehabilitasi dan rekonstruksi ini yang penting adalah akurasi data. Tanggap darurat harus secepatnya, begitu juga rehabilitasi dan rekonstruksi membutuhkan data yang akurat,” kata Pratikno di Solok, Kamis (24/09/2026).
Menurut Pratikno, data tersebut diperlukan agar pemerintah dapat menentukan bentuk serta sasaran bantuan, termasuk dukungan pemerintah pusat terhadap rumah warga yang mengalami kerusakan akibat bencana.
Pencarian Korban dan Kebutuhan Dasar Tetap Jadi Prioritas
Kunjungan pejabat pusat berlangsung ketika operasi pencarian korban masih berjalan. Sebelumnya, satu korban, Dafi Arrahman, ditemukan meninggal dunia. Sementara satu warga lainnya, Agusral (59), masih dalam pencarian tim SAR gabungan hingga Rabu (23/9).
Tim SAR melakukan pencarian di sejumlah titik sepanjang aliran material dan sungai. ANTARA pada 23 September melaporkan pencarian Agusral difokuskan pada tiga titik.
Kepala BNPB Suharyanto meminta masa tanggap darurat selama 14 hari dimanfaatkan secara maksimal untuk menyelesaikan kebutuhan mendesak masyarakat. Prioritas tersebut mencakup pencarian korban, penanganan pengungsi dan pendataan rumah yang mengalami kerusakan.
Suharyanto juga meminta agar masa tanggap darurat tersebut tidak diperpanjang apabila seluruh kebutuhan mendesak dapat diselesaikan dalam periode yang telah ditetapkan.
Normalisasi Sungai Jadi Bagian Mitigasi
Selain pencarian korban dan pemenuhan kebutuhan dasar, perhatian pemerintah juga diarahkan pada kondisi aliran sungai yang membawa material banjir ke kawasan Arosuka. Balai Wilayah Sungai Sumatera V Padang mulai melakukan pengerukan dan normalisasi aliran sungai. Salah satu pekerjaan yang dilaporkan dilakukan berada di aliran Sungai Koto Gaek dengan panjang sekitar dua kilometer.
Pekerjaan tersebut ditargetkan selesai dalam waktu sekitar dua pekan dan ditujukan untuk mengurangi risiko banjir bandang susulan. Dalam rapat koordinasi penanganan bencana, Pratikno juga menekankan bahwa penanganan tanggap darurat harus berjalan bersamaan dengan mitigasi terhadap kemungkinan bencana susulan.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menyebut normalisasi sungai menjadi salah satu prioritas karena curah hujan masih berpotensi tinggi. Ia juga mendorong pemerintah kabupaten dan kota di Sumatera Barat melakukan susur sungai secara berkala untuk memeriksa kemungkinan adanya pohon tumbang, material longsoran atau hambatan lain yang dapat mengubah aliran air.
Dampak Belum Sepenuhnya Final
Bencana yang menerjang Nagari Batang Barus dan wilayah sekitarnya pada Senin malam (21/09/2026) berdampak terhadap permukiman warga, fasilitas pemerintahan, kendaraan dan akses transportasi.
Data awal BNPB mencatat sekitar 100 rumah terdampak. Sebanyak 32 orang dari sembilan kepala keluarga dilaporkan mengungsi. BNPB juga mencatat satu korban meninggal dunia, satu masih hilang, satu korban luka berat dan tiga korban luka ringan.
Sejumlah bangunan pemerintahan ikut terdampak. Data BNPB mencatat dua kantor mengalami kerusakan berat dan sembilan lainnya rusak ringan. Selain itu, satu fasilitas kesehatan dan satu jembatan terdampak, sementara 21 mobil dan tujuh sepeda motor ikut terkena dampak banjir bandang.
Angka tersebut masih merupakan data penanganan awal dan dapat berubah seiring pendataan lapangan. Sebelumnya, BPBD Kabupaten Solok juga mencatat 11 kantor pemerintahan terdampak. Perbedaan angka antarinstansi menunjukkan pendataan kerusakan memang masih perlu disinkronkan.
Jalan Mulai Pulih, Pembersihan Berlanjut
Akses jalan nasional dan jalan provinsi yang sempat terganggu akibat material banjir mulai dipulihkan secara bertahap. Pemerintah melalui unsur terkait melakukan pembersihan material agar jalur transportasi kembali dapat digunakan.
Di kawasan perkantoran, pembersihan juga terus berlangsung. Material lumpur, batu dan kayu masih menjadi persoalan di sejumlah bangunan. Bahkan, gedung Dinas PUPR Kabupaten Solok dilaporkan mengalami kerusakan berat. Kepala Dinas PUPR Effia Vivi Fortuna menyampaikan kepada tim kunjungan bahwa sejumlah gedung, termasuk fasilitas arsip, terdampak material galodo.
Sementara itu, pada 24 September, pimpinan DPRD Kabupaten Solok juga turun melakukan gotong royong membersihkan kompleks Kantor DPRD dan meminta dokumen serta arsip kelembagaan yang masih dapat diselamatkan segera ditangani.
Pemerintah Pusat Minta Data Jangan Sampai Menjadi Masalah Baru
Kunjungan Menko PMK dan Kepala BNPB memperlihatkan bahwa penanganan Arosuka kini tidak hanya berkutat pada pembersihan material dan pencarian korban. Tahap berikutnya akan sangat bergantung pada data.
Berapa rumah yang benar-benar rusak, berapa fasilitas pemerintahan yang harus diperbaiki atau dibangun kembali, berapa nilai kerusakan infrastruktur, berapa warga yang membutuhkan dukungan, serta kawasan mana yang membutuhkan penanganan permanen menjadi bagian dari pekerjaan pemerintah setelah masa tanggap darurat. Karena itu, pesan pemerintah pusat mengenai akurasi data menjadi penting.
Bencana sudah terjadi. Tantangan berikutnya adalah memastikan proses pemulihan tidak berjalan berdasarkan angka yang berbeda-beda. (JC)
CATATAN REDAKSI
(Tim Redaksi)
DISCLAIMER BERITA






