27.7 C
Jakarta

Sumbar Berubah Arah: Tak Lagi Sekadar Target, Kini Jadi Pemasok Sabu ke Luar Daerah

Published:

Sumatera Barat (Sumbar) mencatat alarm keras dalam peta peredaran narkotika nasional. Wilayah yang selama ini dikenal sebagai daerah tujuan peredaran, kini justru bertransformasi menjadi daerah pemasok sabu ke provinsi lain.

Sumbar, CupakNews.id | Fakta mengejutkan itu diungkap langsung Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Barat, Brigjen Pol Ricky Yanuarfi, saat memaparkan catatan akhir tahun pengungkapan kasus narkotika 2025 di Kantor BNNP Sumbar, Selasa (23/12/2025) lalu seperti dilansir beberapa media.

“Kasus terakhir menunjukkan Sumbar mengirim sabu ke Sumatera Selatan. Biasanya kita menerima kiriman, tapi kali ini justru sebaliknya,” tegas Ricky.

Ia menjelaskan, pada Tempat Kejadian Perkara (TKP) awal hanya ditemukan indikasi pemakaian. Namun setelah dikembangkan, petugas masih mendapati stok sabu di rumah pelaku yang belum sempat didistribusikan.

Sumbar
Ilustrasi (CN)

Sepanjang 2025, BNNP Sumatera Barat menetapkan tiga orang sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) dalam kasus peredaran sabu. Ketiganya diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan internasional, meski secara umum jaringan narkotika di Sumbar masih didominasi jaringan lokal.

“Untuk Sumbar, yang kita ungkap mayoritas jaringan lokal. Tapi ada tiga DPO yang terafiliasi jaringan internasional, dan itu sedang kita buru,” ungkap Ricky.

Pengejaran terhadap para buronan ini dilakukan bersama Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumatera Barat sebagai bagian dari upaya penindakan terpadu.

Selama tahun 2025, BNNP Sumbar berhasil mengungkap 14 Laporan Kasus Narkotika (LKN) dengan total 37 tersangka. Menariknya, seluruh tersangka merupakan bandar dan kurir, tanpa satu pun pengguna yang diamankan. “Tidak ada penyalahguna. Semuanya bandar dan kurir,” tegas Ricky.

Jumlah ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, baik dari sisi tersangka maupun barang bukti, khususnya sabu.

Berdasarkan estimasi penghitungan bersama aparat penegak hukum, Sumatera Barat diperkirakan kemasukan hampir 20 kilogram narkotika jenis metamphetamine atau amphetamine setiap bulan.

“Ini angka yang serius dan harus dicegah bersama. Dibutuhkan kolaborasi kuat dengan Polda, Bea Cukai, BNN, dan instansi lainnya untuk memperketat pintu masuk narkotika ke Sumbar,” kata Ricky.

BNNP Sumbar mencatat Pasaman dan Pasaman Barat masih menjadi pintu masuk utama ganja. Sementara sabu umumnya berasal dari Sumatera Utara dan Riau, masuk melalui jalur Pasaman maupun Pekanbaru.

“Kalau ganja, dari Pasaman dan Pasaman Barat. Sabu rata-rata dari Sumut dan Riau,” jelasnya.

Berdasarkan survei BNN, sekitar 1,1 persen populasi Sumatera Barat terlibat narkotika. Dari angka itu, hampir 60 persen merupakan pengguna ganja.

Fakta-fakta ini menegaskan satu hal: Sumatera Barat sedang berada di persimpangan berbahaya. Jika tak dikunci dari hulu hingga hilir, daerah ini berpotensi semakin dalam terseret menjadi simpul baru peredaran narkotika nasional. (***)

Related articles

Recent articles